Selasa, 18 Maret 2014

DZIKIR ITU SEDERHANA TAPI SERING TERLUPA!



DZIKIR ITU SEDERHANA
TAPI SERING TERLUPA!
Assalamualaikum sobat master…
“Dzikir itu sederhana tapi sering terlupa”
Mungkin dari judul diatas para pembaaca bertanya apa sih fadhillah dari berdzikir.
Sebelum diteraangkan tentang fadhillah berdzikir yang sayang sekaali bila di tinnggalkaan karena dzikir memiliki banyak sekali faedah yang bila di tinggalkan kita akan menjadi insan atau hamba yaang merugi.
Sebelumkita ke fadhillah dzikrullah
Mari kita simak ‘keutamaan dzikir’
Sekalipun tidak ada ayat Alquran dan hadits Nabi SAW. Yang menerangkan tentang keutamaan dzikrullah, namun dzikir yang hakiki kepada Allah Yang Maha Pemberi Nikmat ini tetaplah sangat penting.
Sebab kita adalah hamba Allah yang harus senantiasa mengingat-Nya dan jangan sampai lalai dari mengingat-Nya.
Dialah Maha Pemberi yang hakiki, Dia telah memberikan kepada kita nikmat dan kebaikan yang tak terhitung banyaknya setiap waktu.
Oleh karena itu menyebut nama-Nya, mengingat dzat-Nya dan mensyukuri nikmat dan karunia-Nya adalah sesuatu yang fitrah bagi seorang hamba-Nya.
Seorang penyair berkata “Tuhan yang telah berkorban di dunia ini; Mulialah orang-orang yang selalu mengingat-Nya setiap saat”





Nah.. itulah keutamman berdzikir. Setelah itu mari  kita ketahui fadhillah dzikrullah
FAEDAH DZIKIR DARI HAFIZH IBNU QAYYIM RAH.A
Beliau adalah Seorang ulama hadits yaang terkerkenal, beliau menulis sebuah risalah bernama alwabilush yang berisi tentang berbagai penjelasan mengenaai keuntungan berdzikir.
Beberapa faedah berdzikir adalah:
1.      Dzikir menjauhkan syetan dan menghancurkan kekuatannya.
2.      Dzikir menghitamkan mulut syetan.
* Dari Anas, Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Syaitan selalu meletakkan mulutnya di hati manusia. Apabila ia berdzikir kepada Allah, maka Syaitan akan mundur (tidak akan menyimpan mulutnya). Namun, apabila lupa tidak berdzikir, maka Syaitan akan menempelkan mulutnya itu pada hati manusia. Maka itulah yang disebut dengan bisikan yang tersembunyi dalam dada manusia” (HR. Abu Ya’la).
3.      Dzikir mendatangkan keridhaan Allah swt.
Di dunia ini carilaah keridhaan Allah dan
Jangan lah kau  mencari keridhaan manusia. Apabila kau mencari keridhaan manusia, maka nihil yang akan engkau dapatkan.
4.      Dzikir adalah penarik rezeki.

Artinya :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : "Sesungguhnya Allah berfirman : "Wahai anak Adam (manusia) luangkanlah waktu untuk ibadah kepadaKu maka Aku isi dadamu dengan kekayaan, dan Aku tutup kekafiranmu. Jika tidak demikian maka Aku isikan kesibukan di mukamu dan Aku tidak menutup kefakiranmu". (Hadits ditakhrij oleh At Tirmidzi)

5.      Dzikir menjauhkan dukacita dari hati manusia.
6.      Dzikir dapat menggembirakan hati.
7.      Dzikir menguatkan badan dan memperindah sanubari.
8.      Dzikir adalah cahaya hati dan wajah.
9.      Orang yang berdzikir akan di pakaikan kepadanya pakaian kegagahan dan kemegaahan, sehingga orang yang melihatnya akan merasa gentar dan damaai.
10.  Dzikir melahirkan cinta sejati kepada Allah swt. Karena cinta merupakan ruh islam, jiwa agama dan sumber kejayaan dan kebaahagiaan. Barang siapa menginginkan cinta Ilahi, maka hendaklah ia berdzikir seanyak-banyaknya, sebagaimana belajar dan mengulangi ilmu merupakan pintu ilmu, demikian pula dzikrullah merupakan pintu cinta ilahi.
11.  Dzikir mendatangkan hakekat muraqabah dan muraqabah itu akan membawa seseorang kepada martabat ihsan. Dengan martabat ihsan seorang manusia dapat beribadah kepada Allah  seolah-olah ia melihat Allah. (inilah derajat terakhir para ahli sufi)
* Dari Abu Sa’id al-Khudry, Rasulullah saw pernah ditanya : “Hamba yang bagaimana yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah kelak di hari Kiamat?” Rasulullah saw menjawab : “Mereka yang banyak berdzikir kepada Allah”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan yang berperang di jalan Allah?” Rasulullah saw menjawab : “Sekalipun ia membunuh orang kafir dan orang musyrik sehingga berlimpah darah, tetap orang yang berdzikir lebih mulia derajatnya” (HR. Turmudzi).
12.  Dzikir menyebabkan seseorang diingat oleh Allah Swt. Seperti disebutkan dalam al quran.
“maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu. Kan …”
(QS. Albaqarah ayat 152)
Dan diterangkan pula di dalam hadits ;
“barangsiapa mengingati Aku dalam hatinya, maka Aku mengingatnya dalam hati-Ku.”
13.  Dzikir menghapuskan diri dari dosa dan maksiat.
14.  Apabila seseoranghamba berdzikir, maka empat penjuru arasy Ilahi akan berdzikir kepadanya.
15.  Barang siapa ingatkepada Allah ketika senang, maka Allah akan mengingatnya ketika ia dalam kesusahan.
* Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman : “Saya tergantung prasangka hambaKu kepadaKu. Dan Aku akan selalu bersamanya, apabila ia berdzikir kepadaKu. Apabila ia mengingatKu (berdzikir) dalam dirinya, aku akan mengingatnya dalam diriKu. Apabila ia mengingatKu (berdzikir) pada waktu ramai, maka Aku juga akan mengingatnya pada waktu ramai yang lebih baik dari mereka” (HR. Bukhari Muslim).
16.  Dzikir melepaskan orang yang melakukannya dariazab Allah swt.
17.  Dzikir menyebabkan turunnya dan para malaikat mengelilinginya.
18.  Dzikir menyelamatkan lidah dari mengumpat, mencela, dusta, dan berbicara sia-sia. Karena menurut kenyataan orang yang membiasakan lidahnya dengan berdzikir maka ia akan di selamatkan dari perbuatan keji. Sebaliknya, lidah yang tidak di biasakan untuk berdzikir, maka segala perbuatan yng sia-sia akan dilakukannya.
19.  Majelis-majelis dzikir adalah majelis para malaikat, sebaliknya lalai aadalah majelis syetan. Kini terserah masing-masing, majelis manakah yang disukai dan yang akan disertainya.
20.  Dzikir menyebabkan orang yang melakukannya di masukan ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia dan demikian pula orang orang yang mendampinginya.
Sebaliknya orang yang melalaikan dzikir akan di campakkan ke dalam kecelakaan.
* Mu’adz bin Jabal berkata, Rasulullah saw bersabda : “Tidak ada satu pun yang membuat merugi bagi penghuni surga melainkan apabila setiap waktu berlalu, namun mereka tidak berdzikir kepada Allah” (HR. Thabrani dan Baihaki dengan sanad yang baik).
21.  Orang yang suka berdzikir akan di pelihara daribencana dan penyesalan pada hari kiamat. Seperti di sebutkan dalam sebuah hadits bahwa setiap majelis yang tidak diisi dengan dzikrullah akan mendatangkan kerugian dan penyesalan pada hari kiamat.
* Dari Ibnu Abbas, Rasuullah saw bersabda: “Ada empat hal yang apabila manusia diberikan keempat tersebut, maka sungguh ia telah diberikan sesuatu yang sangat istimewa untuk dunia dan akhirat : hati yang selalu bersyukur, lidah yang selalu berdzikir, tubuh yang selalu sabar manakala ditimpa musibah serta isteri yang tidak berbuat dosa kepada dirinya ataupun harta suaminya (isteri shalehah)” (HR. Thabrani dengan sanad yang baik).

22.  Dzikir menyelamatkan diri dari siksa neraka.
Artinya
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : Allah berfirman : "Keluarkanlah dari neraka orang yang ingat kepadaKu pada suatu hari atau takut kepadaKu pada suatu tempat". (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

23.  Nur dzikir senantiasa bersama orang yang berdzikir baik di dunia maupun di alam kubur dan memimpin di titian shirath (tidak akan berpisah di manapun).
Di peringati oleh Allah dalam Alquran:
“Dan apakah orang yang mati, kemudian Kami hidupkan dan Kaami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu ia berjalan di tengah-tengah manusia, akan sama halnya dengan orang yang berada dalam gelap gulita dan tidak mungkin keluardarinya”
(QS. Al An’am ayat 122)
24.  Majelis dzikir adalah majelis para malaikat.
25.  Orang yang selalu berdzikir, ia akan memasuki surge sambil tersenyum.

Sahabat perindu syurga, demikian tadi tentang keutamaan berdzikir. Semoga dapat menambah ilmu dan meningkatkan  kualitas ibadah kita. Amiin…
Terimaksih…
semoga bermanfaat ^_^

By: Evi Imroatu Fadhillah_Al-firhi (XI IPA 2)


kunci bahagia

<<Ketikasatu pintu kenahagiaan tertutup,

pintu yang lain di bukakan.

Namun, acap kali kita terpaku

terlalu lama pada pintu yang tertutup.

sehingga tidak melihat pintu lain yang di bukakan bagi kita>>

Selasa, 03 Desember 2013

I LOVE ALLAH


Sholat Dalam Al Quran


MENELUSURI
MAKNA SHALAT
DALAM AL QUR'AN

       
        Shalat adalah bagian dari jawaban Allah atas permintaan
petunjuk dari orang-orang  beriman. Kepada siapa permintaan itu
diminta dan seperti apa permintaan yang diajukan, kita simak surah Al
Fatihah (Pembuka), semoga hati dan pikiran kita dapat terbuka:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1:1)
Segala puji bagi Allah Tuhan Pemelihara semesta alam (1:2)
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1:3) 
Yang menguasai hari pembalasan (1:4)
Hanya kepada Engkaulah kami mengabdi dan hanya kepada Engkaulah kami
memohon pertolongan (1:5)
Tunjuki kami jalan yang lurus (benar) (1:6)
(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat atas mereka,
bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai atas mereka dan bukan (jalan)
orang-orang yang sesat (1:7)

Pada ayat 1-4, di situ ada Allah, Ar Rahman, Ar Rahim, Al Hamid, Al
Malik. Pengenalan terhadap Allah dan sifat-sifatNya merupakan awal
agama (awaluddin ma'rifatullah), kata seorang guru Agama. Pengenalan
tersebut membawa manusia beriman kepada kesadaran perlunya mengabdi,
tegasnya menghamba, kepada Al Malik. Karena manusia yang butuh, maka
mereka minta petunjuk cara menghambakan diri, yang terangkum dalam
ayat 5-7. 
Jawaban Allah atas permintaan petunjuk cara menghambakan diri yang
diajukan orang-orang yang beriman diberikan pada surah Al Baqarah
ayat 1-5, dan petunjuk yang sama dengan redaksi sedikit berbeda
diberikan pada surah Lukman, juga pada ayat 1-5:
Alif lam mim (2:1)
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan di dalamnya, (sebagai)
petunjuk bagi orang-orang yang takwa (2:2).
(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib dan yang mendirikan
shalat dan yang menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan
kepada mereka (2:3).
Dan orang-orang yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah
diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu
dan mereka yakin terhadap hari akhirat (2:4).
Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan
mereka itulah orang-orang yang beruntung (2:5).

Alif lam mim (31:1)
Inilah ayat-ayat Al Qur'an  (tilka ayatu al-kitabi) yang mengandung
hikmat (31:2).
Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan
(31:3).
(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan
mereka meyakini (kehidupan) akhirat (31:4).
Mereka itulah (orang-orang) yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka,
dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (31:5).

Petunjuk yang Allah berikan adalah Kitab (Al Qur'an)(2:2) dan ayat-
ayat Kitab (Al Quran)(31:2). Agar orang-orang yang beriman mendapat
petunjuk, yaitu mentaati petunjuk yang diberikan, maka mereka harus
mendirikan shalat. Jika demikian halnya, agar mudah dimengerti,
seharusnya tidak dikatakan mendirikan shalat, tetapi mendirikan
petunjuk. Tidak sesederhana itu. Orang-orang yang beriman teramat
sangat beragam, pria, wanita, beragam tingkat umur, beragam profesi,
beragam masalah, beragam kemampuan, dan berbagai keragaman lainnya.
Mereka semua minta petunjuk kepada Allah. Setiap individu beriman
adalah khas dan memiliki kekhususan sendiri-sendiri, dan jika setiap
individu diberi petunjuk sendiri-sendiri maka tidak terbayangkan
betapa rumitnya kitab petunjuk yang harus diberikan. Karena itu,
secara kolektif dijawab oleh Allah: Ini Kitab (2:2), ini ayat-ayat
Kitab (31:2) sebagai petunjuk. Petunjuk tersebut tentunya harus
ditaati sebagai wujud penghambaan orang beriman kepada Allah.
Mentaati petujuk oleh setiap individu itulah yang diistilahkan dengan
mendirikan shalat. Tidak dikatakan mendirikan petunjuk, karena
petunjuk kolektif berupa Kitab atau ayat-ayat Kitab tidak semuanya
harus ditaati. Berhenti mengutib riba misalnya, hanya harus ditaati
oleh rentenir. Orang beriman lainnya tidak perlu harus jadi rentenir
dahulu, setelah itu berhenti mengutib riba, hanya untuk mentaati
petunjuk yang memerintahkan agar berhenti mengutib riba.
        Mendapat petunjuk dalam uraian di atas dimaknai sebagai
mentaati petunjuk dipahami dari ayat berikut:
Katakanlah: "Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, maka
jika kamu berpaling, maka sesungguhnya atas Rasul itu hanyalah apa
yang dibebankan kepadanya, dan (kewajiban) atas kamu yang dibebankan
atasmu, dan jika kamu mentaatinya (tentu) kamu mendapat petunjuk, dan
tidaklah (kewajiban) atas Rasul itu kecuali penyampaian (amanat
Allah) dengan terang" (24:54).
        Ketaatan terhadap petunjuk secara individu, atau mendirikan
shalat,  diwujudkan dengan berbagai cara. Dalam berdagang misalnya,
diperintahkan jujur dan tidak curang, seperti dijelaskan dalam ayat
berikut:
Kecelakaan bagi orang-orang yang curang (83:1)
(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain
mereka minta dipenuhi (83:2)
Dan apabila mereka menakar untuk orang lain atau mereka menimbang
untuk orang lain, mereka mengurangi (82:2).

Pedagang banyak ragamnya, antara lain:  pedagang minyak dan pedagang
daging.  Pedagang minyak mendirikan shalat dengan menakar minyak
dagangannya dengan cukup, dan pedagang daging mendirikan shalat
dengan menimbang daging yang dijualnya dengan cukup. Hal tersebut
merupakan shalat utama pedagang minyak dan pedagang daging, disamping
tentunya banyak lagi shalat lainnya yang harus mereka dirikan
tergantung situasi kehidupan yang mereka hadapi. Agar dapat
mendirikan shalat maka petunjuk dalam Kitab harus dibaca. Demikian
yang dijelaskan dalam Al Qur'an:

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al Kitab (Al Qur'an)
dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari
perbuatan keji dan mungkar, dan sungguh mengingat Allah (shalat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (29:45).

Sesungguhnya orang-orang yang (selalu) membaca kitab Allah dan mereka
mendirikan shalat dan menafkahlan sebagian rezki yang telah Kami
berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan  terang-terangan,
mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi (35:29).

Jelas dan tegas kedua ayat di atas menyatakan membaca Kitab merupakan
langkah awal dalam mendirikan shalat. Apa yang dijelaskan oleh Al
Qur'an tersebut berbeda dengan ritual shalat yang umum dilakukan,
yaitu Al Qur'an dibaca ketika sedang shalat. Mengikuti Al Qur'an,
membaca Kitab sebelum mendirikan shalat akan sangat memudahkan
memperoleh berbagai petunjuk dan penjelasan yang diperlukan. Dalam
membaca Kitab, jika ada yang tidak dimengerti akan sangat leluasa
membuka buku lainnya yang diperlukan atau bertanya, sementara membaca
Kitab (Al Qur'an) ketika sedang ritual shalat, gerak sangat terbatas
dan tidak boleh bertanya ketika petunjuk yang ada dalam Al Qur'an
yang dibaca tidak dipahami. Hal lainnya yang berbeda, pada berbagai
Ayat yang telah dikemukakan, dijelaskan bahwa shalat berkaitan sangat
erat dengan Kitab, bukan dengan rukuk dan sujud seperti pada ritual
shalat. Ayat berikut secara spesifik lebih memperjelas hubungan yang
sangat erat antara shalat dengan Kitab:
 
Dan orang-orang yang  berpegang teguh dengan Kitab dan mereka
mendirikan shalat, sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang mengadakan perbaikan (7:170).


KUTIPAN AYAT

Terjemah Al Qur'an secara Lafsiah, Penuntun Bagi yang Belajar. 1979.
Yayasan Pembinaan Masyarakat Islam Al Hikmah, Jakarta.



-fadhillah Alfirhi-